Muslimah, Agent of Development
“Wanita adalah tiang negara.”
Ungkapan ini
menggambarkan betapa pentingnya peran wanita dalam suatu negara. Negara bisa
hancur karena wanita, juga bisa maju karena wanita. Hal ini bukan berarti
posisi pria termarjinalkan, justru prialah yang menggerakkan roda kepemimpinan negara.
Namun, tidak bisa tidak bahwa wanita adalah unsur pertama dan utama dalam
membangun peradaban suatu bangsa. Wanita memiliki peran agung, yakni mendidik
generasi penerus bangsa untuk menjadi generasi yang tidak hanya baik tetapi
juga mulia.
Wanita adalah kunci kebaikan
suatu umat, terlebih wanita muslimah. Wanita muslimah seperti fondasi suatu
bangunan, jika kuat fondasinya maka kuat pula bangunannya. Menjadi muslimah
adalah suatu kebanggan tersendiri bagi kaum wanita. Menjadi wanita saja adalah
suatu yang berharga, ditambah dengan iman dan akhlak yang mulia. Muslimah memiliki
kekuatan super. Bagaimana tidak, dengan tangan kanannya, ia mampu mengayun dan
membelai dengan lembut dan dengan tangan kirinya, ia mampu mengguncang dunia. Selain
kewajibannya sebagai anak, yang nantinya akan menjadi istri kemudian menjadi
ibu, kontribusi dan kehadirannya sangat ditunggu di tengah-tengah masyarakat.
Sumbangsih para wanita
muslimah tak perlu ditanyakan lagi. Banyak karya yang dihasilkan oleh mereka
baik dalam bidang agama, politik, ekonomi, sosial-budaya, kesehatan, maupun
pendidikan. Namun, masih ada paradigma konvensional dalam pemikiran sebagian
masyarakat yang masih mengakar kuat. Paradigma ini berpendapat bahwa wanita
seharusnya hanya tinggal di rumah mengurus rumah, anak dan suami. Wanita tak
baik jika berada di luar rumah, berkarir hingga tinggi. Wanita tak perlu
mendapat pengajaran, wanita tak perlu cerdas, dan pendapat lain yang membatasi
wanita dalam berkarya.
“Jika anda mendidik seorang
pria, maka anda hanya mendidik seorang manusia.
Jika anda mendidik seorang
wanita, maka anda telah mendidik seluruh manusia.”
(Presiden Tanzania)
Sebagai seorang muslimah
kita harus berupaya meluruskan paradigma tersebut. Ada maksud baik dari
paradigma tersebut yaitu untuk melindungi wanita dari gangguan dunia luar. Namun,
yang harus digarisbawahi di sini adalah wanita muslimah adalah sekolah pertama
bagi anak-anaknya. Bagaimana mungkin mencetak kader-kader bangsa yang cerdas
jika pengajarnya tidak mencerdaskan dirinya terlebih dahulu. Muslimah harus
memiliki pengetahuan yang tinggi, wawasan yang luas dan diimbangi dengan ilmu
agama. Bagaimana mungkin melahirkan generasi penerus yang cemerlang jika ibunya
tidak berpendidikan.
Dilema. Di satu sisi,
kita, sebagai seorang muslimah ingin menjadi muslimah yang produktif dan aktif,
yang mampu memberikan sesuatu lebih kepada masyarakat bahkan dunia luar. Namun,
menjadi muslimah aktivis ada batasan-batasannya, jangan sampai kebablasan. Di
sisi lain perlu diingat pula bahwa menyandang gelar muslimah bukanlah hal yang
mudah. Setiap gerak kita adalah amanah. Setiap gerik kita dapat menimbulkan
fitnah.
Menjadi produktif bukan
berarti bekerja terus-menerus hingga lupa pada rumah dan melupakan tanggung
jawabnya sebagai seorang wanita. Muslimah yang produktif adalah mereka yang
dapat memberikan manfaat kepada muslim lainnya, yang mampu memakai sumber daya
di sekelilingnya untuk menjalani hidup yang lebih bermutu dan untuk
melaksanakan satu misi yang terpenting yakni mencapai kedudukan tertinggi di
Jannah. Muslimah produktif dapat menyeimbangkan urusan keluarga, agama, dan
sosialnya dengan baik.
Sebagai tambahan, seorang
wanita yang berada di rumah, sebut saja ibu rumah tangga, bukan berarti tidak
bisa produktif. Mereka memiliki banyak waktu untuk memberikan didikan penuh
kepada anak-anaknya. Selain itu, mereka
juga bisa memanfaatkan waktunya untuk hal-hal lain yang menghasilkan sesuatu. Membuat
suatu prakarya atau menulis, misalnya. Dengan menulis, para muslimah ini bisa
ikut andil dalam menyampaikan pesan moral, pemikiran-pemikirannya yang mungkin
dapat menjadi inspirasi bagi dunia. Bukankah itu termasuk salah satu upaya
dalam membangun peradaban?
Apapun profesi seorang
Muslimah, baik akuntan, dokter, dosen, politisi dan lain-lain, hendaknya
dikerjakan secara profesional dan sungguh-sungguh. Jangan setengah-setengah.
Mengapa? Karena suatu hal yang dikerjakan secara all-out, hasilnya pun juga akan all-out.
Menjadi akuntan tidak sekadar akuntan tetapi menjadi akuntan muslimah, yang
jujur dan amanah. Menjadi dokter tidak sekadar dokter tetapi menjadi dokter
muslimah, yang menjunjung nilai-nilai Islam, menyampaikan, dan mendakwahkan.
Menjadi dosen yang muslimah, tidak sekadar mengajar tetapi juga mendidik moral.
Menjadi politisi yang menyuarakan kebenaran. Di luar rumah para muslimah adalah
seorang yang tangguh dan kuat. Namun, ketika di rumah ia tetaplah wanita
muslimah yang memiliki sisi kelembutan, yang mengurus, dan mengayomi keluarga.
Jadilah muslimah teladan.
Muslimah yang bisa menjadi contoh wanita-wanita lain dalam memposisikan dirinya
sebagai salah satu agent of development. Muslimah
yang bisa menjalani perannya dengan baik. Perannya sebagai individu, anak,
istri, dan bagian dari pembangunan peradaban. Jadilah muslimah yang bisa
menempa dirinya dan menempa moral para calon pejuang negara dan Islam khususnya.
Jadilah muslimah yang sadar akan kewajibannya sebagai seorang muslim, hamba
Allah, dalam kehidupan keluarga, dan masyarakat. Berislam belum lengkap sebelum
bermanfaat.
Jihad to God is not with a sword but with your mind.
Semoga Allah ridhai kita.
Aamiin.