Pages

Sabtu, 13 Juni 2015

Surat Ceker Ayam untuk Astri



Hai dede Astri! Lagi ulang tahun ya? Ah masa’? Kok bisa? Ngga percaya ih..
Yang ke berapa? Baru ke 18? Ckckck....
Barakalllah fi umrik yaa sahabatku Astri. Semoga semua mimpimu di-Acc sama Allah.
Jaga kesehatan, tensinya jangan sampai turun lagi. Kalau perlu, mau aku beliin pompa po biar bisa naik? :D
Lancar kuliahnya yaa.. Semoga bisa kumlot lagi. Ehm
Jadi anak yang sholihah dan berbakti kepada orangtua. (Ibumu pasti bangga punya anak perempuan yang ‘bakoh’ seperti kamu)
Semoga bisa jadi akuntan yang amanah, politisi muslimah and of course ISTRI yang SHOLIHAH. Aamiin..
Maaf ya As, aku ngga bisa ngasih apa-apa. Hanya sebatas catatan dan buku yang harganya tak seberapa. Semoga bukunya bermanfaat.
As, usiamu kini telah bertambah, itu tandanya tanggung jawab yang kau emban bertambah pula. Tanggung jawab sebagai hamba Allah yang senantiasa taat padaNya. Tanggung jawab sebagai umat Rasulullah yang berdiri kokoh di atas sunnah-sunnahNya.
Astri, jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan. Maksimalkan saja apa yang sedang kau jalani.
Astri, semangat yaa. In syaa Allah hafidzah. Aamiin..
As, maaf ya kalau kamu agak puyeng baca tulisan ceker ayam ini. Haha (Maklum dokter yang tertunda, *maksudnya calon istri dokter :D:D)
Okelah As, mungkin itu dari sahabatmu yang cerewet, kadang nyolot, nyebelin but paling cool seantero FEB. Huahahaha...
#AbaikanKode #StayFocus #KeepCool #KapanNyebarUndangan? #IkiPiye #Lhah #WesYaAs
Bhaaaaayyy...
-Nadifa
Surakarta, 13 Juni 2015

Kamis, 11 Juni 2015

Ramadhan;Revolusi Keimanan



Seperti biasa sore tadi di depan gedung UKM, aku dan teman-teman se-FEB ikut KaFE (Kajian FE) yang diisi oleh ust.Muhtarom tentang persiapan Ramadhan. Disampaikan oleh beliau bahwa Ramadhan adalah syahru tarbiyah. Syahru tarbiyah disini maksudnya Ramadhan adalah  bulan dimana kita dididik untuk senantiasa melakukan perbuatan yang terpuji, dididik untuk bisa mengendalikan hawa nafsu bukan sebaliknya kita yang malah dikendalikan oleh nafsu.  Berpuasa dapat mendidik kita dalam menumbuhkan empati kepada orang lain, tidak hanya meningkatkan keimanan kita tetapi juga meningkatkan kepekaan akan nilai-nilai sosial di sekitar kita. Kita bisa merasakan orang-orang di luar sana yang sudah terbiasa berpuasa di luar bulan Ramadhan, dalam artian mereka tidak cukup memiliki rizki meski hanya sekadar mengganjal perut yang kosong. Output yang diharapkan adalah kita menjadi hambaNya yang bertaqwa, mengapa taqwa? Karena taqwa adalah implementasi dari keimanan seseorang. Ramadhan selain sebagai syahru tarbiyah, juga sebagai syahru jihad wa dakwah. Banyak sekali peristiwa hebat yang terjadi di bulan Ramadhan, seperti Fathu Makkah, perang Tabuk dan peristiwa hebat lainnya yang terjadi di bulan Ramadhan. Perang di bulan Ramadhan? Kita bisa bayangkan bagaimana hebatnya mereka, dalam keadaan berpuasa tapi semangat mereka sama sekali tidak luntur, tidak mengeluh lelah atau lemah. Kita yang sekarang tinggal puasa tanpa hambatan yang besar (paling2 ya godaan lapar dan haus) tentunya harus lebih bersemangat lagi. Puasa tidak jadi alasan untuk bisa bermalas-malasan. Meskipun puasa harus tetap bersemangat dan produktif.
Banyak sekali keistimewaan di bulan Ramadhan, seperti: dibukanya pintu surga lebar-lebar, syetan-syetan dibelenggu, semua kebaikan dilipatgandakan hingga tidak terbatas, peluang doa dikabulkan makin luas dan terkahir adalah revolusi keimanan. Revolusi keimanan, kata ini cukup membuat saya mengernyitkan dahi “Revolusi keimanan? Apaan tuh? Keren nih kata-katanya” (hehehe).
Revolusi keimanan. Iman bisa diibaratkan seperti pakaian, bisa kusut dan bisa lusuh. Pakaian yang kusut harus disetrika, sama seperti iman. Ketika cahaya iman mulai redup, kita harus segera men-chargenya. Ketika iman mulai lemot, cepat-cepat kita refresh supaya bisa berfungsi seperti semula lagi. Ramadhan adalah salah satu momentum untuk meng-upgrade keimanan. Sebelum datangnya Ramadhan, kita sangat dianjurkan untuk mempersiapkan jauh-jauh hari. Mengapa? Ramadhan adalah tamu istemewa, tidak setiap bulan ia ada dan tidak setiap tahun kita pasti berjumpa dengannya serta di dalamnya berbagai keutamaan, hikmah dan manfaat berlipat ganda.
Di awal-awal seperti ini hendaknya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah dan berdoa “Balighna Romadhon, Ya Rabb”. Di awal ini pula iman kita beranjak naik, perlahan tapi pasti. Ketika sudah benar-benar masuk di bulan Ramadhan, harusnya iman kita semakin naik hingga sampai ke puncak keimanan. Sibukkan diri dengan kebaikan, makin banyak yang disedekahkan dan semakin mesra dengan Al Qur’an. Ketika puasa ngga boleh malas-malasan, tetap semangat dan produktif, jaga perut, mata, hati dan lisan. Semoga kita bukan termasuk orang yang merugi, berpuasa seharian tapi tidak dapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga.
Nah, ini nih yang lumayan sulit. Pasca ramadhan. Terkadang kita lalai ketika sudah melewati bulan Ramadhan, kita lalai akan kebiasaan baik yang kita lakukan selama bulan Ramadhan. Kita menganggap sudah berhasil melewati bulan Ramadhan, lucunya lagi “Alhamdulillah euy, aku dapat lailatul qadar.” tapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan seperti telah melewati bulan Ramadhan. Proses revolusi keimanan tidak hanya pra dan pas Ramadhan tetapi juga pasca Ramadhan, malah godaan terbesarnya disini nih. Menjaga keistiqomahan hingga akhir dan di luar Ramadhan. Mengapa kita harus mempertahankan hingga di luar bulan Ramadhan? Parameter keberhasilan selama Ramadhan adalah ya itu tadi, keistiqomahan dan keberlanjutan aktivitas positif yang kita lakukan selama Ramadhan. Aktivitas positif yang seperti apa? Contohnya, jika di bulan Ramadhan kita terbiasa sholat tarawih maka terus biasakan sholat malam dengan tahajud. Jika di bulan Ramadhan kita bisa one day one juz, maka setelah Ramadhan hendaknya kita bisa mempertahankannya bahkan meningkatkannya. Jika di bulan Ramadhan kita terbiasa berpuasa, maka jangan lupa puasa Senin-Kamis dan puasa sunnah lainnya serta masih banyak lagi aktivitas positif yang lain. Ohya, jangan lupa juga untuk berdoa semoga amal ibadah kita selama Ramadahn diterima olehNya.
Oke guys, itu sedikit dari apa yang aku dapatkan dari KaFE tadi dengan berbagai tambahan dan edit sana-sini. Ramadhan tinggal beberapa langkah lagi niih, are you ready gaes? Persiapkan dengan sebaik-baiknya yaa, baik jasmaniyah maupun ruhiyah kita. Semoga Allah masih memberi kita usia sehingga kita bisa menikmati indahnya Ramadhan, nikmatnya puasa, sahur dan berbuka, bareng-bareng ke masjid buat sholat tarawih atau mendengar riuh tawa anak-anak yang main petasan seusai tarawih. Hihi. Semoga setelah Ramadhan kita makin istiqomah dengan keimanan yang baru dan makin mantap... Aamiin...
Surakarta, 11 Juni 2015
Read more...

Senin, 08 Juni 2015

H-1 SBMPTN

Sore tadi -seusai jam kuliah statistik, mata ini tertuju pada dua orang yang tengah sibuk mencari-cari, entah apa yang sedang mereka cari. Langkah mereka terhenti pada ruang 2.208 (semoga ga salah lihat) dan sekarang aku tahu. Ya, mereka berdua itu adalah bapak dan anak gadisnya yang tengah mencari ruang ujian untuk SBMPTN esok hari. Seketika otakku mundur sejenak, mengenang masa-masa dimana aku pernah melakukan hal yang hampir serupa seperti apa yang dilakukan bapak dan anak perempuannya. Terharu liat mereka berdua. Bisa dibilang karena aku rindu dengan masa-masa hectic itu atau akunya yang terlalu baper, pokoknya pingin nangis. H-1 pasti sama abi, sama mama udah disuruh untuk nyantai, ga boleh belajar. Jangan ditanya deg-deg an apa ngga -you know the answer.
Beberapa hari sebelum hari H, aku udah ada di rumah nenek di Sragen. Tahun lalu dapat tempat ujian di fakultas hukum UNS, Alhamdulillah deket. Jadi sore sebelum hari H-nya, aku sama abi, mama, om, tante sama adik (hehe bawa sekeluarga) bisa keliling hampir seluruh bagian UNS, dari depan sampai belakang. Ketika lewat depan fakultas impian, duh rasanya pengen stay dan liatin terus tuh fakultas. Mulut komat-kamit penuh dengan doa dan kalimat pengharapan sambil terus memandangi tulisan F* hehe. Omku tiba-tiba nyeletuk “Gimana Fa, udah ada feeling belum?” Deg..
Malamnya disuruh tidur lebih awal. “jangan malam-malam tidurnya, biar besok bisa bangun pagi, biar pas ngerjain ga ngantuk.” Sebelum itu,udah ngga kehitung lagi berapa kali aku ngecek peralatan buat ujian. Bolak-balik ngecek, mulai dari kartu SBMPTN, kartu identitas, pensil dan kawan-kawannya dan segala macam amunisi untuk berperang esok hari. Ngga bisa nggak, pikiran nakal, ragu nan pesimis muncul mengganggu. Namun, abi dan mama juga berulang kali mengingatkan “Lakukan yang terbaik yang kamu bisa dan serahkan hasil akhirnya ke Allah, Allah yang akan memberikan yang terbaik menurut Dia.”
Setelah persiapan perang dirasa cukup. Semua aku masukkan kembali ke map. Ku simpan dalam tas, ku tutup rapat-rapat. Baju terlipat rapi, sepatu berjajar menanti esok hari, siap menemaniku melangkah pergi. Malam jangan kau terlalu cepat beranjak pergi tetapi aku juga ingin segera pagi menemuiku dengan harapan pasti. Terlelap dalam mimpi....

Read more...

Ujian;La Tahzan, Allah yang Menguatkan

La Tahzan, Allah yang menguatkan
Ujian yang tengah kau hadapi belum ada apa-apanya dibandingkan ujian yang Rasulullah terima.
Ujian yang kau rasa berat, hanyalah sepersekian dari beratnya ujian yang Rasulullah alami.
Ujian yang datang bertubi-tubi belum sampai membuatmu lemah hingga tak berdaya.
Ingatkah, Rasulullah sampai berdarah-darah ketika diuji.
Namun, Rasulullah tak pernah menyerah bahkan tak ada niatan untuk berhenti.

Harusnya kau malu akan semua keluhanmu
Kepalamu masih kuat kau dongakkan sedangkan Rasulullah nyawanya yang terancam.
Lelahmu hanyalah bagian terkecil dari perjalanan Rasulullah.
Peluhmu hanyalah setetes dari keringat yang mengucur deras dari tubuh Rasulullah
Tangis mengibamu karena beratnya ujian jauh tak ada nilainya dengan tangis Rasulullah untuk umatnya bukan untuk dirinya semata
Semangatmu naik turun, padahal lingkungan dan orang-orang disekelilingmu peduli dan aman bagimu
Semangat Rasulullah senantiasa menggelora meski lingkungannya mencekam
dengan orang-orang yang tak pernah berhenti membencinya dengan keyakinan lillahi ta’ala

Tak ada kata lelah, karena semua itu Lillah
Tak ada kata mengeluh, karena itu semua amanah yang harus ditempuh
Tak ada kata menyerah hingga nafas tak lagi sanggup kau hela
Tak ada kata berhenti hingga Allah yang menghentikan
Tak ada kata “cukup sampai disini”, tetapi “harus sampai disana”
Tak ada kata istirahat, karena istirahat seorang Muslim adalah ketika kakinya telah menginjakkan di pelataran Surga bersama dengan Allah dan kekasihNya.
Masihkah akan mengatakan “ujian ini berat”, “cukup”, “aku berhenti” (?)
Do the best and let Allah gives the rest
La Tahzan, Allah yang menguatkan. Allah telah menyiapkan pundak yang kuat, hati yang lapang, dan kaki yang kokoh untukmu berjalan.
Surakarta, 7 Juni 2015
(yang datang hanyalah ujian tulis, presentasi, tugas akhir belum sampai batu, pedang, bahkan kotoran. Harusnya malu)
Read more...

Sabtu, 14 Februari 2015

Menjadi Cahaya



Menjadi Cahaya
Jika engkau merasa bahwa segala yang di sekitarmu gelap dan pekat,
Tidakkah dirimu curiga bahwa engkaulah yang dikirim oleh Allah
untuk menjadi cahaya bagi mereka?
berhentilah mengeluhkan kegelapan itu
sebab sinarmulah yang sedang mereka nantikan,
maka berkilaulah!–Salim A.Fillah

Sering kita mengeluhkan akan keadaan saat ini.
Sering kita tidak tahan dengan tingkah polah manusia milenium
Sering kita marah-marah sendiri, tak jelas objek dan titik permasalahan,
saking banyaknya objek yang makin tidak karuan.
Banyak yang keluar dari koridor yang telah dibangun kokoh, menyimpang dari aturan dan tata krama yang telah diatur apik sedemikian rupa
Ketika Islam hanya sebuah status
Ketika aturan agama yang mulia hanya dengar namanya tanpa tahu dan kenal itu apa.
Ketika kebebasan malah menjadi keblabasan
Sungguh kita inginkan perubahan

Janganlah kau buang energimu hanya untuk memaki dan menyalahi
Bukankah lebih berarti jika kau gunakan energimu untuk memperbaiki?
Apa lagi yang kau tunggu?
Apakah kau akan menunggu orang lain yang akanmelakukan itu?
Tak inginkah kau tanya dalam diri,
“Mengapa bukan aku?”
“Jangan-jangan akulah orang itu”
Memang tidak baik menaruh rasa curiga terkecuali kau curiga pada dirimu sendiri
Bahwa mungkin engkaulah agen yang memiliki misi mulia untuk ummat.
Bahwa mungkin engkaulah cahaya yang selama ini dinantikan.
Bukan sepertililin, menerangi tapi ia sendiri meleleh dimakan api.
Namun, sebenar-benarnya cahaya.
Cahaya yang disulut oleh ikatan iman yang takkan padam oleh tiupan kedengkian dan kebencian.
Tahan dari perpecahan, karena kuatnya tameng iman dan persaudaraan .

Bukan berarti yang paling benar
Yang paling pintar
Yang paling suci dan tanpa cela
Bukan.

Tak maksud hati menggurui, hanya ingin berbagi
Untuk terus menyambung mata rantai ilmu agar tak putus dan berhenti lalu mati
Sejatinya kita adalah pembelajar sejati
Masih banyak yang harus dipelajari dan dicari
Ayat dan sabda adalah dasarnya
Alam raya pendukungnya
Dan kita lah pelakunya.

-Nadifa
Kediri, 5 Pebruari 2015




Read more...

Jumat, 21 November 2014

Muslimah, Agent of Development



Muslimah, Agent of Development
Wanita adalah tiang negara.”
Ungkapan ini menggambarkan betapa pentingnya peran wanita dalam suatu negara. Negara bisa hancur karena wanita, juga bisa maju karena wanita. Hal ini bukan berarti posisi pria termarjinalkan, justru prialah yang menggerakkan roda kepemimpinan negara. Namun, tidak bisa tidak bahwa wanita adalah unsur pertama dan utama dalam membangun peradaban suatu bangsa. Wanita memiliki peran agung, yakni mendidik generasi penerus bangsa untuk menjadi generasi yang tidak hanya baik tetapi juga mulia.
Wanita adalah kunci kebaikan suatu umat, terlebih wanita muslimah. Wanita muslimah seperti fondasi suatu bangunan, jika kuat fondasinya maka kuat pula bangunannya. Menjadi muslimah adalah suatu kebanggan tersendiri bagi kaum wanita. Menjadi wanita saja adalah suatu yang berharga, ditambah dengan iman dan akhlak yang mulia. Muslimah memiliki kekuatan super. Bagaimana tidak, dengan tangan kanannya, ia mampu mengayun dan membelai dengan lembut dan dengan tangan kirinya, ia mampu mengguncang dunia. Selain kewajibannya sebagai anak, yang nantinya akan menjadi istri kemudian menjadi ibu, kontribusi dan kehadirannya sangat ditunggu di tengah-tengah masyarakat.
Sumbangsih para wanita muslimah tak perlu ditanyakan lagi. Banyak karya yang dihasilkan oleh mereka baik dalam bidang agama, politik, ekonomi, sosial-budaya, kesehatan, maupun pendidikan. Namun, masih ada paradigma konvensional dalam pemikiran sebagian masyarakat yang masih mengakar kuat. Paradigma ini berpendapat bahwa wanita seharusnya hanya tinggal di rumah mengurus rumah, anak dan suami. Wanita tak baik jika berada di luar rumah, berkarir hingga tinggi. Wanita tak perlu mendapat pengajaran, wanita tak perlu cerdas, dan pendapat lain yang membatasi wanita dalam berkarya.


“Jika anda mendidik seorang pria, maka anda hanya mendidik seorang manusia.
Jika anda mendidik seorang wanita, maka anda telah mendidik seluruh manusia.”
(Presiden Tanzania)
Sebagai seorang muslimah kita harus berupaya meluruskan paradigma tersebut. Ada maksud baik dari paradigma tersebut yaitu untuk melindungi wanita dari gangguan dunia luar. Namun, yang harus digarisbawahi di sini adalah wanita muslimah adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Bagaimana mungkin mencetak kader-kader bangsa yang cerdas jika pengajarnya tidak mencerdaskan dirinya terlebih dahulu. Muslimah harus memiliki pengetahuan yang tinggi, wawasan yang luas dan diimbangi dengan ilmu agama. Bagaimana mungkin melahirkan generasi penerus yang cemerlang jika ibunya tidak berpendidikan.
Dilema. Di satu sisi, kita, sebagai seorang muslimah ingin menjadi muslimah yang produktif dan aktif, yang mampu memberikan sesuatu lebih kepada masyarakat bahkan dunia luar. Namun, menjadi muslimah aktivis ada batasan-batasannya, jangan sampai kebablasan. Di sisi lain perlu diingat pula bahwa menyandang gelar muslimah bukanlah hal yang mudah. Setiap gerak kita adalah amanah. Setiap gerik kita dapat menimbulkan fitnah.
Menjadi produktif bukan berarti bekerja terus-menerus hingga lupa pada rumah dan melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang wanita. Muslimah yang produktif adalah mereka yang dapat memberikan manfaat kepada muslim lainnya, yang mampu memakai sumber daya di sekelilingnya untuk menjalani hidup yang lebih bermutu dan untuk melaksanakan satu misi yang terpenting yakni mencapai kedudukan tertinggi di Jannah. Muslimah produktif dapat menyeimbangkan urusan keluarga, agama, dan sosialnya dengan baik.
Sebagai tambahan, seorang wanita yang berada di rumah, sebut saja ibu rumah tangga, bukan berarti tidak bisa produktif. Mereka memiliki banyak waktu untuk memberikan didikan penuh kepada anak-anaknya.  Selain itu, mereka juga bisa memanfaatkan waktunya untuk hal-hal lain yang menghasilkan sesuatu. Membuat suatu prakarya atau menulis, misalnya. Dengan menulis, para muslimah ini bisa ikut andil dalam menyampaikan pesan moral, pemikiran-pemikirannya yang mungkin dapat menjadi inspirasi bagi dunia. Bukankah itu termasuk salah satu upaya dalam membangun peradaban?
Apapun profesi seorang Muslimah, baik akuntan, dokter, dosen, politisi dan lain-lain, hendaknya dikerjakan secara profesional dan sungguh-sungguh. Jangan setengah-setengah. Mengapa? Karena suatu hal yang dikerjakan secara all-out, hasilnya pun juga akan all-out. Menjadi akuntan tidak sekadar akuntan tetapi menjadi akuntan muslimah, yang jujur dan amanah. Menjadi dokter tidak sekadar dokter tetapi menjadi dokter muslimah, yang menjunjung nilai-nilai Islam, menyampaikan, dan mendakwahkan. Menjadi dosen yang muslimah, tidak sekadar mengajar tetapi juga mendidik moral. Menjadi politisi yang menyuarakan kebenaran. Di luar rumah para muslimah adalah seorang yang tangguh dan kuat. Namun, ketika di rumah ia tetaplah wanita muslimah yang memiliki sisi kelembutan, yang mengurus, dan mengayomi keluarga.
Jadilah muslimah teladan. Muslimah yang bisa menjadi contoh wanita-wanita lain dalam memposisikan dirinya sebagai salah satu agent of development. Muslimah yang bisa menjalani perannya dengan baik. Perannya sebagai individu, anak, istri, dan bagian dari pembangunan peradaban. Jadilah muslimah yang bisa menempa dirinya dan menempa moral para calon pejuang negara dan Islam khususnya. Jadilah muslimah yang sadar akan kewajibannya sebagai seorang muslim, hamba Allah, dalam kehidupan keluarga, dan masyarakat. Berislam belum lengkap sebelum bermanfaat.
Jihad to God is not with a sword but with your mind.
Semoga Allah ridhai kita. Aamiin.
Read more...