Pages

Jumat, 21 November 2014

Muslimah, Agent of Development



Muslimah, Agent of Development
Wanita adalah tiang negara.”
Ungkapan ini menggambarkan betapa pentingnya peran wanita dalam suatu negara. Negara bisa hancur karena wanita, juga bisa maju karena wanita. Hal ini bukan berarti posisi pria termarjinalkan, justru prialah yang menggerakkan roda kepemimpinan negara. Namun, tidak bisa tidak bahwa wanita adalah unsur pertama dan utama dalam membangun peradaban suatu bangsa. Wanita memiliki peran agung, yakni mendidik generasi penerus bangsa untuk menjadi generasi yang tidak hanya baik tetapi juga mulia.
Wanita adalah kunci kebaikan suatu umat, terlebih wanita muslimah. Wanita muslimah seperti fondasi suatu bangunan, jika kuat fondasinya maka kuat pula bangunannya. Menjadi muslimah adalah suatu kebanggan tersendiri bagi kaum wanita. Menjadi wanita saja adalah suatu yang berharga, ditambah dengan iman dan akhlak yang mulia. Muslimah memiliki kekuatan super. Bagaimana tidak, dengan tangan kanannya, ia mampu mengayun dan membelai dengan lembut dan dengan tangan kirinya, ia mampu mengguncang dunia. Selain kewajibannya sebagai anak, yang nantinya akan menjadi istri kemudian menjadi ibu, kontribusi dan kehadirannya sangat ditunggu di tengah-tengah masyarakat.
Sumbangsih para wanita muslimah tak perlu ditanyakan lagi. Banyak karya yang dihasilkan oleh mereka baik dalam bidang agama, politik, ekonomi, sosial-budaya, kesehatan, maupun pendidikan. Namun, masih ada paradigma konvensional dalam pemikiran sebagian masyarakat yang masih mengakar kuat. Paradigma ini berpendapat bahwa wanita seharusnya hanya tinggal di rumah mengurus rumah, anak dan suami. Wanita tak baik jika berada di luar rumah, berkarir hingga tinggi. Wanita tak perlu mendapat pengajaran, wanita tak perlu cerdas, dan pendapat lain yang membatasi wanita dalam berkarya.


“Jika anda mendidik seorang pria, maka anda hanya mendidik seorang manusia.
Jika anda mendidik seorang wanita, maka anda telah mendidik seluruh manusia.”
(Presiden Tanzania)
Sebagai seorang muslimah kita harus berupaya meluruskan paradigma tersebut. Ada maksud baik dari paradigma tersebut yaitu untuk melindungi wanita dari gangguan dunia luar. Namun, yang harus digarisbawahi di sini adalah wanita muslimah adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Bagaimana mungkin mencetak kader-kader bangsa yang cerdas jika pengajarnya tidak mencerdaskan dirinya terlebih dahulu. Muslimah harus memiliki pengetahuan yang tinggi, wawasan yang luas dan diimbangi dengan ilmu agama. Bagaimana mungkin melahirkan generasi penerus yang cemerlang jika ibunya tidak berpendidikan.
Dilema. Di satu sisi, kita, sebagai seorang muslimah ingin menjadi muslimah yang produktif dan aktif, yang mampu memberikan sesuatu lebih kepada masyarakat bahkan dunia luar. Namun, menjadi muslimah aktivis ada batasan-batasannya, jangan sampai kebablasan. Di sisi lain perlu diingat pula bahwa menyandang gelar muslimah bukanlah hal yang mudah. Setiap gerak kita adalah amanah. Setiap gerik kita dapat menimbulkan fitnah.
Menjadi produktif bukan berarti bekerja terus-menerus hingga lupa pada rumah dan melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang wanita. Muslimah yang produktif adalah mereka yang dapat memberikan manfaat kepada muslim lainnya, yang mampu memakai sumber daya di sekelilingnya untuk menjalani hidup yang lebih bermutu dan untuk melaksanakan satu misi yang terpenting yakni mencapai kedudukan tertinggi di Jannah. Muslimah produktif dapat menyeimbangkan urusan keluarga, agama, dan sosialnya dengan baik.
Sebagai tambahan, seorang wanita yang berada di rumah, sebut saja ibu rumah tangga, bukan berarti tidak bisa produktif. Mereka memiliki banyak waktu untuk memberikan didikan penuh kepada anak-anaknya.  Selain itu, mereka juga bisa memanfaatkan waktunya untuk hal-hal lain yang menghasilkan sesuatu. Membuat suatu prakarya atau menulis, misalnya. Dengan menulis, para muslimah ini bisa ikut andil dalam menyampaikan pesan moral, pemikiran-pemikirannya yang mungkin dapat menjadi inspirasi bagi dunia. Bukankah itu termasuk salah satu upaya dalam membangun peradaban?
Apapun profesi seorang Muslimah, baik akuntan, dokter, dosen, politisi dan lain-lain, hendaknya dikerjakan secara profesional dan sungguh-sungguh. Jangan setengah-setengah. Mengapa? Karena suatu hal yang dikerjakan secara all-out, hasilnya pun juga akan all-out. Menjadi akuntan tidak sekadar akuntan tetapi menjadi akuntan muslimah, yang jujur dan amanah. Menjadi dokter tidak sekadar dokter tetapi menjadi dokter muslimah, yang menjunjung nilai-nilai Islam, menyampaikan, dan mendakwahkan. Menjadi dosen yang muslimah, tidak sekadar mengajar tetapi juga mendidik moral. Menjadi politisi yang menyuarakan kebenaran. Di luar rumah para muslimah adalah seorang yang tangguh dan kuat. Namun, ketika di rumah ia tetaplah wanita muslimah yang memiliki sisi kelembutan, yang mengurus, dan mengayomi keluarga.
Jadilah muslimah teladan. Muslimah yang bisa menjadi contoh wanita-wanita lain dalam memposisikan dirinya sebagai salah satu agent of development. Muslimah yang bisa menjalani perannya dengan baik. Perannya sebagai individu, anak, istri, dan bagian dari pembangunan peradaban. Jadilah muslimah yang bisa menempa dirinya dan menempa moral para calon pejuang negara dan Islam khususnya. Jadilah muslimah yang sadar akan kewajibannya sebagai seorang muslim, hamba Allah, dalam kehidupan keluarga, dan masyarakat. Berislam belum lengkap sebelum bermanfaat.
Jihad to God is not with a sword but with your mind.
Semoga Allah ridhai kita. Aamiin.

0 komentar:

Posting Komentar