Sore tadi -seusai jam kuliah
statistik, mata ini tertuju pada dua orang yang tengah sibuk mencari-cari,
entah apa yang sedang mereka cari. Langkah mereka terhenti pada ruang 2.208
(semoga ga salah lihat) dan sekarang aku tahu. Ya, mereka berdua itu adalah
bapak dan anak gadisnya yang tengah mencari ruang ujian untuk SBMPTN esok hari.
Seketika otakku mundur sejenak, mengenang masa-masa dimana aku pernah melakukan
hal yang hampir serupa seperti apa yang dilakukan bapak dan anak perempuannya. Terharu
liat mereka berdua. Bisa dibilang karena aku rindu dengan masa-masa hectic itu atau akunya yang terlalu
baper, pokoknya pingin nangis. H-1 pasti sama abi, sama mama udah disuruh untuk
nyantai, ga boleh belajar. Jangan ditanya deg-deg an apa ngga -you know the
answer.
Beberapa hari sebelum hari H, aku
udah ada di rumah nenek di Sragen. Tahun lalu dapat tempat ujian di fakultas
hukum UNS, Alhamdulillah deket. Jadi sore sebelum hari H-nya, aku sama abi,
mama, om, tante sama adik (hehe bawa sekeluarga) bisa keliling hampir seluruh
bagian UNS, dari depan sampai belakang. Ketika lewat depan fakultas impian, duh
rasanya pengen stay dan liatin terus tuh fakultas. Mulut komat-kamit penuh
dengan doa dan kalimat pengharapan sambil terus memandangi tulisan F* hehe.
Omku tiba-tiba nyeletuk “Gimana Fa, udah ada feeling belum?” Deg..
Malamnya disuruh tidur lebih awal.
“jangan malam-malam tidurnya, biar besok bisa bangun pagi, biar pas ngerjain ga
ngantuk.” Sebelum itu,udah ngga kehitung lagi berapa kali aku ngecek peralatan
buat ujian. Bolak-balik ngecek, mulai dari kartu SBMPTN, kartu identitas,
pensil dan kawan-kawannya dan segala macam amunisi untuk berperang esok hari. Ngga
bisa nggak, pikiran nakal, ragu nan pesimis muncul mengganggu. Namun, abi dan
mama juga berulang kali mengingatkan “Lakukan yang terbaik yang kamu bisa dan
serahkan hasil akhirnya ke Allah, Allah yang akan memberikan yang terbaik
menurut Dia.”
Setelah persiapan perang dirasa
cukup. Semua aku masukkan kembali ke map. Ku simpan dalam tas, ku tutup
rapat-rapat. Baju terlipat rapi, sepatu berjajar menanti esok hari, siap menemaniku
melangkah pergi. Malam jangan kau terlalu cepat beranjak pergi tetapi aku juga
ingin segera pagi menemuiku dengan harapan pasti. Terlelap dalam mimpi....








0 komentar:
Posting Komentar