Pages

Kamis, 11 Juni 2015

Ramadhan;Revolusi Keimanan



Seperti biasa sore tadi di depan gedung UKM, aku dan teman-teman se-FEB ikut KaFE (Kajian FE) yang diisi oleh ust.Muhtarom tentang persiapan Ramadhan. Disampaikan oleh beliau bahwa Ramadhan adalah syahru tarbiyah. Syahru tarbiyah disini maksudnya Ramadhan adalah  bulan dimana kita dididik untuk senantiasa melakukan perbuatan yang terpuji, dididik untuk bisa mengendalikan hawa nafsu bukan sebaliknya kita yang malah dikendalikan oleh nafsu.  Berpuasa dapat mendidik kita dalam menumbuhkan empati kepada orang lain, tidak hanya meningkatkan keimanan kita tetapi juga meningkatkan kepekaan akan nilai-nilai sosial di sekitar kita. Kita bisa merasakan orang-orang di luar sana yang sudah terbiasa berpuasa di luar bulan Ramadhan, dalam artian mereka tidak cukup memiliki rizki meski hanya sekadar mengganjal perut yang kosong. Output yang diharapkan adalah kita menjadi hambaNya yang bertaqwa, mengapa taqwa? Karena taqwa adalah implementasi dari keimanan seseorang. Ramadhan selain sebagai syahru tarbiyah, juga sebagai syahru jihad wa dakwah. Banyak sekali peristiwa hebat yang terjadi di bulan Ramadhan, seperti Fathu Makkah, perang Tabuk dan peristiwa hebat lainnya yang terjadi di bulan Ramadhan. Perang di bulan Ramadhan? Kita bisa bayangkan bagaimana hebatnya mereka, dalam keadaan berpuasa tapi semangat mereka sama sekali tidak luntur, tidak mengeluh lelah atau lemah. Kita yang sekarang tinggal puasa tanpa hambatan yang besar (paling2 ya godaan lapar dan haus) tentunya harus lebih bersemangat lagi. Puasa tidak jadi alasan untuk bisa bermalas-malasan. Meskipun puasa harus tetap bersemangat dan produktif.
Banyak sekali keistimewaan di bulan Ramadhan, seperti: dibukanya pintu surga lebar-lebar, syetan-syetan dibelenggu, semua kebaikan dilipatgandakan hingga tidak terbatas, peluang doa dikabulkan makin luas dan terkahir adalah revolusi keimanan. Revolusi keimanan, kata ini cukup membuat saya mengernyitkan dahi “Revolusi keimanan? Apaan tuh? Keren nih kata-katanya” (hehehe).
Revolusi keimanan. Iman bisa diibaratkan seperti pakaian, bisa kusut dan bisa lusuh. Pakaian yang kusut harus disetrika, sama seperti iman. Ketika cahaya iman mulai redup, kita harus segera men-chargenya. Ketika iman mulai lemot, cepat-cepat kita refresh supaya bisa berfungsi seperti semula lagi. Ramadhan adalah salah satu momentum untuk meng-upgrade keimanan. Sebelum datangnya Ramadhan, kita sangat dianjurkan untuk mempersiapkan jauh-jauh hari. Mengapa? Ramadhan adalah tamu istemewa, tidak setiap bulan ia ada dan tidak setiap tahun kita pasti berjumpa dengannya serta di dalamnya berbagai keutamaan, hikmah dan manfaat berlipat ganda.
Di awal-awal seperti ini hendaknya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah dan berdoa “Balighna Romadhon, Ya Rabb”. Di awal ini pula iman kita beranjak naik, perlahan tapi pasti. Ketika sudah benar-benar masuk di bulan Ramadhan, harusnya iman kita semakin naik hingga sampai ke puncak keimanan. Sibukkan diri dengan kebaikan, makin banyak yang disedekahkan dan semakin mesra dengan Al Qur’an. Ketika puasa ngga boleh malas-malasan, tetap semangat dan produktif, jaga perut, mata, hati dan lisan. Semoga kita bukan termasuk orang yang merugi, berpuasa seharian tapi tidak dapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga.
Nah, ini nih yang lumayan sulit. Pasca ramadhan. Terkadang kita lalai ketika sudah melewati bulan Ramadhan, kita lalai akan kebiasaan baik yang kita lakukan selama bulan Ramadhan. Kita menganggap sudah berhasil melewati bulan Ramadhan, lucunya lagi “Alhamdulillah euy, aku dapat lailatul qadar.” tapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan seperti telah melewati bulan Ramadhan. Proses revolusi keimanan tidak hanya pra dan pas Ramadhan tetapi juga pasca Ramadhan, malah godaan terbesarnya disini nih. Menjaga keistiqomahan hingga akhir dan di luar Ramadhan. Mengapa kita harus mempertahankan hingga di luar bulan Ramadhan? Parameter keberhasilan selama Ramadhan adalah ya itu tadi, keistiqomahan dan keberlanjutan aktivitas positif yang kita lakukan selama Ramadhan. Aktivitas positif yang seperti apa? Contohnya, jika di bulan Ramadhan kita terbiasa sholat tarawih maka terus biasakan sholat malam dengan tahajud. Jika di bulan Ramadhan kita bisa one day one juz, maka setelah Ramadhan hendaknya kita bisa mempertahankannya bahkan meningkatkannya. Jika di bulan Ramadhan kita terbiasa berpuasa, maka jangan lupa puasa Senin-Kamis dan puasa sunnah lainnya serta masih banyak lagi aktivitas positif yang lain. Ohya, jangan lupa juga untuk berdoa semoga amal ibadah kita selama Ramadahn diterima olehNya.
Oke guys, itu sedikit dari apa yang aku dapatkan dari KaFE tadi dengan berbagai tambahan dan edit sana-sini. Ramadhan tinggal beberapa langkah lagi niih, are you ready gaes? Persiapkan dengan sebaik-baiknya yaa, baik jasmaniyah maupun ruhiyah kita. Semoga Allah masih memberi kita usia sehingga kita bisa menikmati indahnya Ramadhan, nikmatnya puasa, sahur dan berbuka, bareng-bareng ke masjid buat sholat tarawih atau mendengar riuh tawa anak-anak yang main petasan seusai tarawih. Hihi. Semoga setelah Ramadhan kita makin istiqomah dengan keimanan yang baru dan makin mantap... Aamiin...
Surakarta, 11 Juni 2015

0 komentar:

Posting Komentar