Seperti biasa sore tadi di depan
gedung UKM, aku dan teman-teman se-FEB ikut KaFE (Kajian FE) yang diisi oleh
ust.Muhtarom tentang persiapan Ramadhan. Disampaikan oleh beliau bahwa Ramadhan
adalah syahru tarbiyah. Syahru tarbiyah disini maksudnya Ramadhan
adalah bulan dimana kita dididik untuk
senantiasa melakukan perbuatan yang terpuji, dididik untuk bisa mengendalikan
hawa nafsu bukan sebaliknya kita yang malah dikendalikan oleh nafsu. Berpuasa dapat mendidik kita dalam
menumbuhkan empati kepada orang lain, tidak hanya meningkatkan keimanan kita
tetapi juga meningkatkan kepekaan akan nilai-nilai sosial di sekitar kita. Kita
bisa merasakan orang-orang di luar sana yang sudah terbiasa berpuasa di luar
bulan Ramadhan, dalam artian mereka tidak cukup memiliki rizki meski hanya
sekadar mengganjal perut yang kosong. Output
yang diharapkan adalah kita menjadi hambaNya yang bertaqwa, mengapa taqwa? Karena
taqwa adalah implementasi dari keimanan seseorang. Ramadhan selain sebagai
syahru tarbiyah, juga sebagai syahru
jihad wa dakwah. Banyak sekali peristiwa hebat yang terjadi di bulan Ramadhan,
seperti Fathu Makkah, perang Tabuk dan peristiwa hebat lainnya yang terjadi di
bulan Ramadhan. Perang di bulan Ramadhan? Kita bisa bayangkan bagaimana
hebatnya mereka, dalam keadaan berpuasa tapi semangat mereka sama sekali tidak
luntur, tidak mengeluh lelah atau lemah. Kita yang sekarang tinggal puasa tanpa
hambatan yang besar (paling2 ya godaan lapar dan haus) tentunya harus lebih
bersemangat lagi. Puasa tidak jadi alasan untuk bisa bermalas-malasan. Meskipun
puasa harus tetap bersemangat dan produktif.
Banyak sekali keistimewaan di
bulan Ramadhan, seperti: dibukanya pintu surga lebar-lebar, syetan-syetan
dibelenggu, semua kebaikan dilipatgandakan hingga tidak terbatas, peluang doa
dikabulkan makin luas dan terkahir adalah revolusi keimanan. Revolusi keimanan,
kata ini cukup membuat saya mengernyitkan dahi “Revolusi keimanan? Apaan tuh?
Keren nih kata-katanya” (hehehe).
Revolusi keimanan. Iman bisa
diibaratkan seperti pakaian, bisa kusut dan bisa lusuh. Pakaian yang kusut
harus disetrika, sama seperti iman. Ketika cahaya iman mulai redup, kita harus
segera men-chargenya. Ketika iman
mulai lemot, cepat-cepat kita refresh
supaya bisa berfungsi seperti semula lagi. Ramadhan adalah salah satu momentum
untuk meng-upgrade keimanan. Sebelum datangnya
Ramadhan, kita sangat dianjurkan untuk mempersiapkan jauh-jauh hari. Mengapa? Ramadhan
adalah tamu istemewa, tidak setiap bulan ia ada dan tidak setiap tahun kita
pasti berjumpa dengannya serta di dalamnya berbagai keutamaan, hikmah dan
manfaat berlipat ganda.
Di awal-awal seperti ini hendaknya
kita semakin mendekatkan diri kepada Allah dan berdoa “Balighna Romadhon, Ya
Rabb”. Di awal ini pula iman kita beranjak naik, perlahan tapi pasti. Ketika sudah
benar-benar masuk di bulan Ramadhan, harusnya iman kita semakin naik hingga
sampai ke puncak keimanan. Sibukkan diri dengan kebaikan, makin banyak yang
disedekahkan dan semakin mesra dengan Al Qur’an. Ketika puasa ngga boleh
malas-malasan, tetap semangat dan produktif, jaga perut, mata, hati dan lisan. Semoga
kita bukan termasuk orang yang merugi, berpuasa seharian tapi tidak dapat
apa-apa kecuali lapar dan dahaga.
Nah, ini nih yang lumayan sulit. Pasca
ramadhan. Terkadang kita lalai ketika sudah melewati bulan Ramadhan, kita lalai
akan kebiasaan baik yang kita lakukan selama bulan Ramadhan. Kita menganggap
sudah berhasil melewati bulan Ramadhan, lucunya lagi “Alhamdulillah euy, aku
dapat lailatul qadar.” tapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan seperti
telah melewati bulan Ramadhan. Proses revolusi keimanan tidak hanya pra dan pas
Ramadhan tetapi juga pasca Ramadhan, malah godaan terbesarnya disini nih. Menjaga
keistiqomahan hingga akhir dan di luar Ramadhan. Mengapa kita harus
mempertahankan hingga di luar bulan Ramadhan? Parameter keberhasilan selama
Ramadhan adalah ya itu tadi, keistiqomahan dan keberlanjutan aktivitas positif
yang kita lakukan selama Ramadhan. Aktivitas positif yang seperti apa? Contohnya,
jika di bulan Ramadhan kita terbiasa sholat tarawih maka terus biasakan sholat
malam dengan tahajud. Jika di bulan Ramadhan kita bisa one day one juz, maka setelah Ramadhan hendaknya kita bisa
mempertahankannya bahkan meningkatkannya. Jika di bulan Ramadhan kita terbiasa
berpuasa, maka jangan lupa puasa Senin-Kamis dan puasa sunnah lainnya serta
masih banyak lagi aktivitas positif yang lain. Ohya, jangan lupa juga untuk
berdoa semoga amal ibadah kita selama Ramadahn diterima olehNya.
Oke guys, itu sedikit dari apa
yang aku dapatkan dari KaFE tadi dengan berbagai tambahan dan edit sana-sini.
Ramadhan tinggal beberapa langkah lagi niih, are you ready gaes? Persiapkan dengan sebaik-baiknya yaa, baik
jasmaniyah maupun ruhiyah kita. Semoga Allah masih memberi kita usia sehingga
kita bisa menikmati indahnya Ramadhan, nikmatnya puasa, sahur dan berbuka,
bareng-bareng ke masjid buat sholat tarawih atau mendengar riuh tawa anak-anak
yang main petasan seusai tarawih. Hihi. Semoga setelah Ramadhan kita makin
istiqomah dengan keimanan yang baru dan makin mantap... Aamiin...
Surakarta, 11 Juni 2015








0 komentar:
Posting Komentar