“Akankah lamaranku diterima atau ditolak?” #SiapMenangSiapKalah
Dalam
setiap pertandingan pasti ada yang menang ada yang kalah. Dalam setiap
proses pelamaran, ada yang diterima dan ada yang ditolak. Tidak ada yang
menjadi pemenang semua. Dan tidak mungkin menerima semua lamaran yang
ada. Itu konsekuensi. Ketika turun di medan laga, ada dua kemungkinan:
menang atau kalah. Diterima atau ditolak. Siap menang, siap kalah. Siap
diterima, siap ditolak..
Ada cerita tentang lelaki yang
ingin melamar seorang wanita. Lelaki ini berusaha untuk merebut hati
pujaan hatinya. Seribu satu cara, jurus, dan modus dia lakukan untuk
calon pendampingnya. (Modus? Modus adalah bagian dari proses. Modus,
tapi tulus. Begitu)
Tanggal 9 Juli 2014 lelaki tersebut
mendatangi wanita itu,(Kenapa tanggal itu? Tanyakan pada yang
bersangkutan), sembari berkata:
“Wahai fulanah, maukah kau menjadi istriku?”
(“Wahai calon rakyatku, maukah kau jadikan aku menjadi presidenmu?”) Kurang lebih.
Lelaki ini tidak tahu bahwa di hari yang sama, ada lelaki lain yang juga mengungkapkan perasaannya pada wanita itu.
Wanita ini tak berkata apa-apa. Tak ada yang tahu. Ia menjawab dalam diamnya.
(Rakyat menjawab dalam bilik suara. Meski, telah terdengar bisik-bisik tetangga.)
Kedua lelaki itu harus bersabar. (Now playing: Afgan-Sabar)
Rasa deg-degan bermain-main dengan si jantung.
Akankah mereka mendapat YES atau NO. (Kalau saya sih YES! Selamat, anda lolos ke tahap berikutnya. Apaan sih?)
22 Juli 2014
Taraa..!! Inilah saatnya
Terpilihlah
satu dari dua lelaki tangguh tersebut. Lelaki yang terpilih senangnya
bukan main. Lelaki yang tak terpilih juga senang (maksa) karena melihat
wanita yang dicintainya bahagia. (Meski harus menahan perih).
Namanya ‘keluarga besar’. Ada yang setuju, agak setuju, dan kurang setuju.
Si Ibu, “Semoga Allah memberkahi kalian.”
Si Bapak setuju sih, tapi... “Demi kebahagiaanmu, Nak. Semoga pilihanmu tepat.”
Dari Om, Bibi, Kakek, hingga tetangga sebelah (ngikut aja deh tetanga satu ini).
Wanita
ini hanya tersenyum. (Sebagai penonton kita tidak bisa memaksa wanita
ini untuk milih siapa, kan? Termasuk siapa yang akan terpilih).
Toh,
akhirnya lelaki yang tak terpilih itu datang juga ke walimahannya dan
memberi selamat kepada kedua mempelai. Tak ada benci diantara mereka.
(Mungkin, rasa sakit yang masih tersisa. Tanyakan pada hatimu).
Lelaki tersebut berpesan kepada lelaki itu (Paham bukan?)
“Jaga
istrimu dan pimpin keluargamu dengan baik. Jangan ajarkan mereka
tentang dunia saja, tapi jangan lupa kenalkan juga mereka akan Tuhan dan
agama. Ku percayakan padamu.” Mereka berjabat tangan.
Mungkin baik bagi kita, belum tentu baik menurutNya.
Mungkin bagiku engkaulah yang terbaik, tapi entah aku hanya patuh pada cintaNya.
Tetap berhusnudzon pada Dia. Karena, Dia pun tak pernah bersuudzon kepada kita.
Sakinah, Mawaddah, Warahmah.
Semoga Allah memberkahi kita.
Selamat!








0 komentar:
Posting Komentar