“SELAMAT ULANG TAHUN ANAKKU DIFA.
Hari ini genap 18 tahun usiamu.
Sebuah usia yang bukan anak-anak lagi.
Kini kamu beranjak dewasa, maka dari itu mama pesan jaga dirimu.
Kuatkan tekat tuk cari ilmu untuk masa depanmu.
Semoga tercapai segala yang kau impikan.
Aamiin.. “
08:38, 31 Aug
Diam-diam airmata meluncur lembut. Entah apakah saya alay, saya lebay, atau memang wajar jika seorang anak menangis haru ketika di hari bertambahnya usia, dia jauh dari seorang ibu. Jika mungkin dulu ketika terbangun dari tidurmu ada ibu dengan senyum mataharinya-menghangatkan-mengucapkan selamat padamu, tapi kini berbeda,handphonemu yang mengucapkan selamat padamu.
Yah, hari ini saya resmi menyandang status ‘delapanbelas tahun’. Satu tingkat di atas batas yang mungkin bagi kebanyakan orang dianggap menjadi tolak ukur kedewasaan. Dewasa. Saya sudah dewasa? Benarkah? Masih meraba-raba dewasa yang seperti apa yang mereka maksudkan. Dengan ‘kedewasaan’ku yang masih dini, aku mencoba untuk sedikit mencari arti dari kata dewasa, tentu menurut penafsiran diriku sendiri. Boleh setuju, dan sangat diperbolehkan memiliki pendapat yang berbeda.
Sejatinya kedewasaan tidak bisa dilihat mentah dari tingkat usia seseorang. Dewasa bukan pemberian, tetapi proses yang terus berjalan. Dewasa tidak seperti mie instan, dewasa berkomposisi bahan-bahan kehidupan dan juga pengalaman. Dewasa bukan hanya jasmani, tapi olah pikir dan juga hati. Dewasa bukan sekadar ucapan, tetapi juga perbuatan. Dewasa tidak hanya kata-kata,tetapi ada aksi nyata. Dewasa bukanlah kalimat jika tidak dilengkapi dengan penyelesaian hingga tamat.
Dewasa dengan bijak. Dewasa dengan arif. Dewasa dengan persamaan. Dewasa dengan keanekaragaman. Dewasa dalam menghadapi, melayani, dan menyikapi perbedaan. Dewasa melihat perbedaan bukan sebagai permusuhan, bukan pemaksaan,bukan keegoisan. Air dan minyak berbeda, tapi mereka berdua bisa hidup akur, berdampingan bahkan mampu memberikan cita rasa yang lezat di sebagian makanan. Dewasa berbeda dengan anak-anak, remaja dan golongan tua. Namun, mereka bisa menjadi suatu keluarga yang penuh cinta.
Dewasa tidak lagi melihat kesulitan, kesusahan,cobaan dan ujian adalah hukuman dari Tuhan, melainkan anugerah yang mengingatkan bahwa kau masih punya Tuhan. Sering dewasa lupa, sering dewasa berputus asa ketika musibah melanda. Ingat dewasa, kau tak berdiri sendiri, ada Tuhan yang ada dan akan selalu ada menguatkan.
Dewasa tak jarang sering membuat masalah, dan seharusnya dewasa pula yang menanggung akibatnya, tapi dewasa tak perlu bersedih hati, adukan, serahkan dan mintalah bantuan padaNya. Meskipun itu karena kesalahan yang dibuatnya sendiri, tapi Dia tak pernah angkat tangan untuk membebaskan. Dia tak pernah marah ketika kau datang dengan masalah setinggi gunung, seluas samudera, seberat bumi dan seisinya, dengan sekejap kau pun bisa melangkah pergi meninggalkanNya dengan pundak yang ringan. Asal kau pergi dan cepat-cepat kembali.
Dewasa punya cara pandang yang berbeda. Pandanglah dengan pandangan yang positif. Kita bisa kok menilai apakah kita sudah dewasa atau belum. Semoga saja.
Terimakasih untuk Abi dan Mama, saudara, dan juga teman-teman yang telah mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Terimakasih untuk doa-doa hebat, doa-doa tulus yang dihadiahkan untuk saya. Allah lebih tahu balasan yang tepat untuk kalian semua. Semoga Allah masih mempertemukan kita di 31 Agustus 2015, aamiin.. :)
Salam hangat dari anak manusia yang –alhamdulillah-masih diberi kesempatan hidup 18 tahun di bumi Allah ini. Aku sayang kita..^^
Solo, 31 Agustus 2014








0 komentar:
Posting Komentar