Pendekar Muslimah
“Ibu kita Kartini putri sejati,
putri Indonesia, harum namanya.” (Kartini ‘kan? Kok harum namanya? :D).
Siapa yang tak kenal dengan
Kartini, perempuan yang disebut-sebut sebagai pelopor emansipasi wanita ini
memang memiliki kharisma tersendiri. Cita-citanya, perjuangannya untuk kami,
kaum wanita, tak bisa dianggap biasa. Sudah sepantasnya kita mengenangnya.
Maka, tak heran jika bulan April identik dengan Kartini. Sekolah-sekolah, mulai
dari TK, SD, SMP bahkan mungkin SMA ikut memperingati hari Kartini dengan cara
yang berbeda-beda, seperti: mengadakan lomba-lomba, menceritakan kisah
perjuangan Kartini atau dengan memakai kebaya dan mempercantik diri ketika
berangkat ke sekolah. Baguslah. Asal tidak hanya sibuk mempercantik diri
sendiri. Ajak wanita-wanita lain untuk menjadi cantik. Cantik bukan berarti
tebalnya bedak, tebalnya blush on, eye shadow, atau merahnya lipstik. Bukan.
Cantik rupa cantik pula akhlak, sikap dan perilakunya. Cantik luar dalam deh.
Kartini. Jauh sebelum adanya
Kartini yang kita kenal sekarang ini, coba kita lirik kartini-kartini di zaman
Nabi yang tangguh dan berani. Pada zaman Nabi ada kartini-kartini yang tak
kalah hebat dengan ibu Kartini. Mereka wanita-wanita hebat. Mereka
wanita-wanita pemberani. Berani pada lawan, tetapi dengan hati yang senantiasa
takut pada Rabbnya. Tak takut mati, jika mati dengan syahid dan surga adalah
balasannya. Mereka adalah pendekar Muslimah. Pendekar di tengah pertempuran sengit.
Mereka pendekar Islam.
Jika laki-laki jago pedang itu sudah biasa, tetapi Muslimah jago pedang itu luar biasa. Berikut beberapa wanita-wanita anti mainstream tersebut:
Jika laki-laki jago pedang itu sudah biasa, tetapi Muslimah jago pedang itu luar biasa. Berikut beberapa wanita-wanita anti mainstream tersebut:
Nusaibah binti Ka’ab,
pendekar Muslimah yang ikut berperang dalam perang Uhud. Sebagai bukti cintanya
pada Rasulullah, juga pada Islam tanpa kenal takut menjadi bagian dalam perang
Uhud
“..... Saya pergi ke Uhud dan melihat apa yang dilakukan orang. Pada waktu itu saya membawa tempat air. Kemudian saya sampai kepada Rasulullah yang berada di tengah-tengah para sahabat. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan, saya melindungi Rasulullah, kemudian saya ikut serta dalam medan pertempuran. Saya berusaha melindungi Rasulullah dengan pedang, saya juga menggunakan panah hingga akhirnya saya terluka.”
“..... Saya pergi ke Uhud dan melihat apa yang dilakukan orang. Pada waktu itu saya membawa tempat air. Kemudian saya sampai kepada Rasulullah yang berada di tengah-tengah para sahabat. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan, saya melindungi Rasulullah, kemudian saya ikut serta dalam medan pertempuran. Saya berusaha melindungi Rasulullah dengan pedang, saya juga menggunakan panah hingga akhirnya saya terluka.”
Khaulah binti Azur, wanita
pemberani yang satu ini dijuluki Black Rider. Wiih, keren kan. Asal
muasalnya julukan ini adalah ketika saat perang melawan pasukan Romawi, tampak
sesosok pendekar berjubah hitam yang mengendarai kuda hitamnya merangsek ke
arah musuh dengan gagahnya. Tebasan pedangnya begitu ganas, menyisakan luka
yang menganga, memudahkan nyawa-nyawa durhaka itu meninggalkan tubuh-tubuh yang
kafir. Sang panglima dan seluruh pasukan Islam tercengang. Pemandangan itu
mungkin seperti film action yang dibuat slow motion. (The Raid? Lewaaat :D).
Lebih mencengangkan lagi setelah diketahui, ternyata ksatria hitam itu adalah
seorang wanita. Semangat pasukan Islam pun terbakar dan meledak. Muntahlah
seluruh keberanian dan serangan-serangan yang mematikan.
Lagi-lagi keberaniannya begitu memesona. Pada suatu waktu, Khaulah dan beberapa muslimah lainnya tertawan. Tak mudah membangun asa dan semangat untuk melawan saat tertawan. Tapi si Black Rider ini sukses membakar semangat mereka. Mereka melakukan perlawanan dan akhirnya mereka berhasil lolos! Allahu Akbar!
Lagi-lagi keberaniannya begitu memesona. Pada suatu waktu, Khaulah dan beberapa muslimah lainnya tertawan. Tak mudah membangun asa dan semangat untuk melawan saat tertawan. Tapi si Black Rider ini sukses membakar semangat mereka. Mereka melakukan perlawanan dan akhirnya mereka berhasil lolos! Allahu Akbar!
Yang terakhir adalah Rubayi’
binti Asad, sang dokter perang di zaman Nabi. Kisah heroiknya memang tak
sedahsyat dua pendekar di atas, tetapi tetap istimewa. Beliau mengambil peran
sebagai tim medis dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah. Jangan
dibayangkan beliau menggunakan peralatan lengkap layaknya dokter sekarang. Yang
beliau bawa hanya air minum, pembalut luka sekedarnya dan obat-obat sederhana.
Bisa dibayangkan luka para pasukan perang akibat terkena sabetan pedang atau
tertembus panah, apalagi jika menemui korban yang tengah sekarat. Wallahua’lam.
Entah seperti apa kondisi beliau pada saat itu.
Itulah beberapa kisah hero yang based on a true story. Ini kisah nyata, bukan fiktif belaka.
Itulah beberapa kisah hero yang based on a true story. Ini kisah nyata, bukan fiktif belaka.
Lain zaman, lain perjuangan.
Apakah wanita sekarang juga harus berperang seperti Nusaibah dkk? Tentu tidak.
Wanita sekarang jauh lebih maju, lebih cerdas, lebih melek teknologi dan
lebih-lebih lainnya. Gunakan kelebihan yang kita miliki untuk memperjuangkan
kaum kita, juga agama Islam pastinya. How? Kita bisa berjuang sesuai dengan
bidang kita masing-masing.
Bu dokter berjuang mengobati pasiennya sembari berdoa semoga Allah menyembuhkannya. Bu guru berjuang mencerdakan anak bangsa yang akan meneruskan tongkat estafet para pejuang Islam di bumi ini. Bu penulis berjuang melalui tulisannya ketika tatap muka tak mungkin terlaksana karena jarak yang tak memungkinkan untuk bersua. Ibu penyapu jalanan berjuang membersihkan kota, selain kau kumpulkan sampah-sampah itu, pahala pun juga terkumpul untukmu. Ibu penjual jamu, kami tau berat membawa botol-botol jamu tersebut, teruslah berjuang seberat itu pula pahala yang kan kau bawa. Ibu penjual mainan , anak-anak tertawa senang setelah membeli mainan darimu, kelak kau juga akan tersenyum lebar karena tawa mereka adalah pahala bagimu. Ibu rumah tangga, berjuang mengurus rumah dan keluarganya, tak terhitung kebaikan yang akan ia peroleh kelak. Para pelajar atau mahasiswi yang sedang belajar, berjuanglah sesuai dengan fakultasnya, apapun prodinya, dimanapun sekolahnya, apapun universitasnya. Tetaplah berjuang. Dan tentunya kita sebagai pemuda Muslimah memang sudah kewajiban kita untuk meneruskan perjuangan kartini-kartini hebat di masanya.
Bu dokter berjuang mengobati pasiennya sembari berdoa semoga Allah menyembuhkannya. Bu guru berjuang mencerdakan anak bangsa yang akan meneruskan tongkat estafet para pejuang Islam di bumi ini. Bu penulis berjuang melalui tulisannya ketika tatap muka tak mungkin terlaksana karena jarak yang tak memungkinkan untuk bersua. Ibu penyapu jalanan berjuang membersihkan kota, selain kau kumpulkan sampah-sampah itu, pahala pun juga terkumpul untukmu. Ibu penjual jamu, kami tau berat membawa botol-botol jamu tersebut, teruslah berjuang seberat itu pula pahala yang kan kau bawa. Ibu penjual mainan , anak-anak tertawa senang setelah membeli mainan darimu, kelak kau juga akan tersenyum lebar karena tawa mereka adalah pahala bagimu. Ibu rumah tangga, berjuang mengurus rumah dan keluarganya, tak terhitung kebaikan yang akan ia peroleh kelak. Para pelajar atau mahasiswi yang sedang belajar, berjuanglah sesuai dengan fakultasnya, apapun prodinya, dimanapun sekolahnya, apapun universitasnya. Tetaplah berjuang. Dan tentunya kita sebagai pemuda Muslimah memang sudah kewajiban kita untuk meneruskan perjuangan kartini-kartini hebat di masanya.
Berjuanglah. Allah Maha Kuat.
Ketika ada bahaya dan goda, semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk
melawannya, mendapat perlindungan dan keselamatanNya.
Selamat berjuang para Kartini
Indonesia.
Selamat berjuang para Pendekar
Muslimah.
Berjuang. Perjuanganmu takkan
sia-sia.
Selamat Hari Kartini
(Oh ya, tak lupa terimakasih untuk
para lelaki yang sudah membantu kami dalam perjuangan ini. Siapapun itu. J)








0 komentar:
Posting Komentar